Harmoni Pendidikan dan Nasionalisme dalam Kemajuan Negara

Harmoni Pendidikan dan Nasionalisme dalam Kemajuan Negara

Dua kata inti yaitu Pendidikan dan nasionalisme dikarenakan memiliki peran yang sangat penting dalam keterkaitan dari keseluruhan masalah-masalah yang timbul di dalamsuatu negara. Pendidikan dan Nasionalisme adalah dimana berbicara tentang prilaku, pengetahuan, pola pikir, dan akhlak yang di kaitkan dengan rasa cinta tanah air, Kebanggaan menjadi manusia indonesia seutuhnya, Menghargai setiap tetesan keringat dan darah yang harus dibayar oleh parah Pengukir-pengukir sejarah.
Mengangkat suatu sample warna kehidupan dimana, Ketika Seorang anak yang di didik oleh orang tuanya dari masih di dalam kandungan dengan memberi nutrisi dari asupan-asupan seorang ibu yang sedang hamil mengandung anaknya selama 9 bulan lalu kelahiran sang bayi disambut dengan senyum tulus seorang ibu dan azan yang disuarakan kecil oleh suara merdu dari seorang ayah ke telinga si bayi tersebut. Pendidikan yang sudah dimulai dari dalam masa kandungan itu mempunyai efek yang terus berkelanjutan.
Pendidikan terus terjadi dalam proses pertumbuhan seorang anak yang terjadi di lingkungan keluarga, lingkungan bermain, lingkungan sekolah, dan lingkungan yang ada di sekitarnya. Berbagai pengetahuan baik negatif dan positif pun dapat terserap oleh seorang anak jika tidak memiliki suatu pengertian dasar yang kuat tentang suatu kebaikan dalam hidup yang diperoleh dari ajaran-ajaran agama semenjak ia kecil. Ketika menjelang dewasa berbagai wawasan dan ilmu pengetahuan didapatnya dari bangku sekolah-sekolah hingga universitas dan lapangan kerjaanpun terbuka bagi si anak tersebut. Di dapatkanlah sebuah ijazah sebagai tanda bukti dia sudah melewati pendidikan formal yang begitu demikian lamanya.
Anak itu pun bekerja demi menafkahi keluarganya dan kedua orang tuanya, ketika dalam kurun waktu tertentu jabatan atau posisi pekerjaannya pun beranjak naik, Uang yang begitu besar di dapatkannya melalui pendapatannya. Kebutuhan dari setiap kebutuhannya dapat di katagorikan terpenuhi, kenikmatan duniawi yang trus ia dapatkan sehingga terlena tidak bisa mengkontrol dirinya dan terus – menerus ingin lebih dalam memperoleh kesejahteraan yang dapat dikatagorikan sudah melebihi dari kata cukup. Cara apapun dtempuh untuk mendapatkan bonus tambahan atau uang-uang tambahan yang dgunakan dalam kegelamouran kehidupannya dan keluarganya lalu terjerumus lah dia di dalam suatu kejahatan yaitu “korupsi”. Ketika menjadi suatu kebiasaan dalam melakukan korupsi, tidak menjadi suatu penyesalan yang ada di dalam dirinya melainkan menjadikan suatu kebiasaan-kebiasaan yang di tempuhnya dalam kemewahan hidupnya.
Banyak orang yang tidak bersalah dirugikan, Uang yang bukan milik atau haknya di lahap sedemikian rupa untuk memenuhi sifat konsumtif hidupnya. Tidak menyadari banyak orang yang berkehidupan di bawah garis kemiskinan di sekitar lingkungannya. Orang yang tidak dapat mengenyam bangku sekolahan atau memperoleh bangku pendidikan, Orang yang masih sulit dalam mencari sesuap nasi, juga Tempat tinggal yang beratapkan langit dan tidur beralaskan karung goni. Si anak tadi semakin sangat sejahtera. Dan kesenjangan pun semakin terjadi dimana perbedaan sangat jauh antara si kaya dan si miskin.
Contoh kasus diatas adalah yang sangat kecil dari sekian banyak dari contoh kasus-kasus besar, dapat diambil suatu garis inti ketika pendidikan tidak menjamin suatu pribadi dapat menjadi orang yang baik dan peduli sesama. Walau si anak tersebut menempuh berbagai jenis dan tahapan dari berbagai jenjang pendidikan. Adalah tidak menjamin kesuksesan secara kemanusian bahkan membentuk suatu kekeliruan yang berdampak negatif bagi kehidupan banyak orang dalam suatu negara. Banyak orang yang pintar, profesor-profesor, Sarjana-sarjana yang lulus dengan nilai yang memuaskan tetapi ketika memegang suatu posisi atau jabatan tidak amanah bahkan terkekesan menyimpang. Padahal dari orang pintar banyak yang di jadikan seorang pemimpin, leader, Pembuat kebijakan atau jabatan yang memiliki fungsi penting yang terkait dengan kepentingan orang banyak.
Kemana arah pendidikan Indonesia?
Jarum jam sudah tidak bisa diputar kembali dan arus globalisasi sudah tidak terbendung. Dua poin-keunggulan dan pemerataan pendidikan-harus diupayakan secara serius dan sistematis sampai kesenjangan dalam dunia pendidikan bisa makin diminimalkan dan pendidikan bisa menjadi jembatan bagi proses demokratisasi bangsa dan kebangkitan nasionalisme baru di Indonesia.
Pendidikan dimaksudkan sebagai mempersiapkan anak-anak bangsa untuk menghadapi masa depan dan menjadikan bangsa ini bermartabat di antara bangsa-bangsa lain di dunia. Masa depan yang selalu berkembang menuntut pendidikan untuk selalu menyesuaikan diri dan menjadi lokomotif dari proses demokratisasi dan pembangunan bangsa. Pendidikan membentuk masa depan bangsa. Akan tetapi, pendidikan yang masih menjadi budak sistem politik masa kini telah kehilangan jiwa dan kekuatan untuk memastikan reformasi bangsa sudah berjalan sesuai dengan tujuan dan berada pada rel yang tepat.
Apa yang menyebabkan terjadi seperti ini? Apakah pendidikan yang harus disalahkan? Apakah orang yang mengenyam pendidikan yang harus disalahkan? Apakah anda memiliki jawabannya?.
Mari kita tarik tema lain yaitu nasionalisme
Nationalisme adalah suatu satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris “nation”) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia.
Nasionalisme merupakan roh suatu bangsa, jadi apabila ia memudar dan pada akhirnya nanti hilang maka bangsa itu akan mati. Demikian juga ikatan solidaritas sosial, jika memudar, maka yg terjadi adalah kekacauan sosial .
Ketika berbicara tentang nasionalisme maka yang akan timbul adalah suatu negara. Ketika berbicara tentang suatu negara maka yang timbul adalah sebuah Bangsa. Ketika berbicara suatu bangsa maka timbul kepentingan orang banyak beserta dengan isinya (agama,ras,budaya,dsb).
Perpaduan pendidikan dengan nasionalisme adalah ketika seorang yang berintelektual tinggi tetap peduli pada masyarakat dan nasib bangsa. Peduli dengan orang disekitarnya saling membantu bahu membahu untuk membangun tidak individualistis, menjatuhkan, merusak, menggerogoti melainkan penggagas ide-ide kreatif untuk pencapaian tujuan bersama dan rasa bangga menjadi manusia indonesia.
Rasa nasionalisme adalah rasa dimana kesadaran cinta tanah air, persatuan dan kesatuan serta mendorong kebanggaan sbg bangsa Indonesia yg sangat berpotensi menjadi bangsa besar, bermartabat, damai dan sejahtera. Hal tersebut sangat tergantung kepada bangsa Indonesia, karena maju mundurnya suatu bangsa bukan karena orang lain melainkan oleh bangsa itu sendiri.
Nasionalisme adalah kesadaran berbangsa dan bernegara dalam kesatuan (Reksosusilo 2007:50). Menarik, bahwa nasionalisme itu pertama-tama adalah kesadaran, maka dari itu, nasionalisme dimungkinkan untuk dapat ditularkan dan dapat diejawantahkan, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satu cara penular-annya melalui pendidikan yang mana, dengan proses pembelajarannya, seseorang dimampukan untuk sampai pada kesadaran itu sendiri.
Ketika nasionalisme berkolaborasi indah dengan pendidikan maka akan terjadi adalah rasa menghargai,mencintai,menyayangi sesama warga indonesia dan tidak merauk atau menyulap aset-aset bangsa yang dijadikan sebagai aset peribadi.
Contoh kasus ; Gotong royong adalah ciri khas dari budaya bangsa indonesia pada zaman dahulu dan kegotongroyongan itu seakan pudar oleh perkembangan zaman. Kehidupan yang berpacu dengan kemodernisasian dan teknologi yang memanjakan dalam tata laksana kehidupan masyarakat itu sendiri dihasilkan dari proses pendidikan para penemu, profesor, dokter, dan civitas akademik yang berpendidikan. Maka akan melebur dengan budaya masyarakat pada zaman sekarang dan akan menghasilkan pribadi-pribadi yang Individualistis karena disuguhi kehidupan yang serba peraktis.

Berbanding terbalik ketika nasionalisme tanpa pendidikan, maka yang terjadi adalah para unsur-unsur bangsa negara akan mudah dibohongi ditipu muslihat oleh segala macam teori-teori, doktrin-doktrin dan teknologi seiring dengan hal tersebut maka nasionalisme yang kuat pun akan tidak berpengaruh sama sekali untuk kehidupan suatu bangsa dan negara. Oleh karena itu pendidikan dan nasionalisme harus sejalan seirama agar dapat berkolaborasi dengan indah dalam pencapaian tujuan dan keberlangsungan hidup suatu negara.
Solusinya adalah pendidikan dan nasionalisme harus sejalan seirama agar dapat berkolaborasi dengan indah dalam pencapaian tujuan efektif dan efisien dan keberlangsungan hidupnya suatu bangsa dan negara.
Metode membangkitkan nasionalisme
a. Teringat apa yang pernah diucapkan Presiden Soekarno dalam pidatonya, bahwa untuk membangkitkan rasa nasionalisme kita harus belajar pada sejarah, “Nasionalisme tumbuh subur di taman sarinya nasionalisme dan taman sari hanya bisa berbunga di nasionalisme.
b. Menanamkan rasa cinta Tanah Air sejak usia dini. Salah satu caranya menanamkan sikap bangga menjadi bangsa Indonesia, mencintai bangsa sendiri serta memperkenalkan dan mencintai budaya-budaya asli Indonesia kepada anak-anak sejak usia dini.
c. Memfilter budaya luar yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Responden menilai budaya asing yang masuk, diserap secara keseluruhan oleh generasi muda tanpa menyaringnya lebih dahulu. Padahal budaya asing tersebut tidak sesuai dengan identitas bagsa Indonesia.
d. Menciptakan karya seni yang mengandung nilai nasionalisme. Misalnya dengan menciptakan lagu-lagu yang bermakna nasionalisme. Hal ini disebabkan terlalu banyak karya seni dari generasi muda banyak diinspirasikan dari seni negara-negara luar, separti Jepang, Inggris, Amerika, dan lain-lain.
Dimulai dari hal yang kecil dan dalam kehidupan sehari-hari
1. Indonesia itu besar. Untuk bisa mencintai Indonesia mulailah dari mencintai yang kecil apa adanya, yang ada di depan mata. Misalnya, mencintai diri /keluarga /kampung halaman /lingkungan /alam sekitar /pekerjaan, dst. Jika mencintai yang kecil saja sudah gagal, apalagi mencintai yang besar.
2. Menggunakan produk bangsa sendiri, bagaimanapun keadaannya /mutunya. Tanpa itu, tidak ada peningkatan kecakapan dan mutu produk.
3. Mengkonsumsi hasil bumi tanah air sendiri. Dengan begitu, petani /nelayan merasa diorangkan.
4. Mencintai Rupiah. Katanya cinta Indonesia, tapi tabungannya dalam bentuk dollar (mata uang asing lainnya). Padahal tidak hendak ke luar negeri … Kondisi semacam itu sangat, sangat, dan sangat menyakitkan.
5. Keteladanan para pemimpin dari level terendah sampai tertingi bahwa membela bangsa Indonesia, membela negara Indonesia, dan membela Indonesia secara keseluruhan adalah bakti tertinggi dari anak bangsa terhadap Ibu Pertiwi. Pemimpin HARUS bisa membuktikan kesatuan kata dan tindakan /kebijakan yang diambilnya.
6. Mencintai berbagai simbol-simbol Negara.

Faktor pendukung yang mempengaruhi upaya penanaman nilai nasionalisme adalah kompetensi pedagogik dan profesional guru IPS, latar belakang siswa, rasa nasionalisme dalam pembelajaran IPS, dan lingkungan belajar yang kondusif, dan faktor penghambat upaya penanaman nilai nasionalisme adalah rendahnya motivasi belajar siswa, penerapan metode yang monoton, penggunaan media kurang efektif, keterbatasan waktu untuk bidang studi IPS, kurangnya wawasan guru tentang arti nasionalisme.
Nasionalisme dalam pendidikan juga bukan hanya mempelajari mata pelajaran sejarah di sekolah, nasionalisme dalam pendidikan bukan hanya juga bukan Upacara stiap hari senin melainkan seluruh aspek masa pertumbuhan peserta didik harus dimasukkan unsur-unsur cinta tanah air. Seperti di dalam film-film yang ditontonnya, Permainan yang dimainkannya, buku-buku yang dibacanya, pola pikirnya harus diarahkan ke arah bangga dan cinta tanah air tanpa ada doktrin-doktrin budaya asing yang di rekamnya secara keseluruhan tanpa ada filterisasi yang dilakukan oleh orang-orang dewasa terdekatnya.
Dalam konteks globalisasi, pendidikan di Indonesia perlu membiasakan anak-anak untuk memahami eksistensi bangsa dalam kaitan dengan eksistensi bangsa-bangsa lain dan segala persoalan dunia. Pendidikan nasional perlu mempertimbangkan bukan hanya state building dan nation building melainkan juga capacity building. Birokrasi pendidikan di tingkat nasional perlu fokus pada kebijakan yang strategis dan visioner serta tidak terjebak untuk melakukan tindakan instrumental dan teknis seperti UAN/UNAS. Dengan kebijakan otonomi daerah, setiap kabupaten perlu difasilitasi untuk mengembangkan pendidikan berbasis masyarakat namun bermutu tinggi. Pendidikan berbasis masyarakat ini diharapkan bisa menjadi lahan persemaian bagi anak-anak dari berbagai latar belakang untuk mengenali berbagai persoalan dan sumber daya dalam masyarakat serta terus mencari upaya-upaya untuk mengubah masyarakat menjadi lebih baik.

Uploaded with ImageShack.us

Uploaded with ImageShack.us

Uploaded with ImageShack.us

Sumber
http://id.wikipedia.org/wiki/Nasionalisme
http://www.facebook.com/notes/ryamizard-ryacudu/nasionalisme-adalah-roh-suatu-bangsa/374460291305
http://my.opera.com/aboutgre/blog/show.dml/4156732
http://sangnata.wordpress.com/2011/02/16/26-bagaimana-cara-membangkitkan-rasa-nasionalisme-untuk-membela-bangsa-indonesia-ini/
http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20080915213348AA5EfdK
http://eprints.uny.ac.id/561/
http://www.komunitasdemokrasi.or.id/comments.php?id=P150_0_9_0_C

One response to this post.

  1. You share interesting things here. I think that your blog can go viral
    easily, but you must give it initial boost and i
    know how to do it, just type in google – mundillo traffic increase

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

nowathome

Love life! Sharing and caring!

Tales of life

Life is what you make it

SUGIH forever

Prince Dreamer constructs all his dreams!

%d bloggers like this: