Sekolah Hijau

SEKOLAH BERBUDAYA LINGKUNGAN SEBAGAI MEDIA INOVATIF

MENINGKATKAN KOMPETENSI BELAJAR SISWA

Potensi sumber daya manusia merupakan aset nasional sekaligus sebagai modal dasar pembangunan bangsa. Potensi ini hanya dapat digali dan dikembangkan serta dipupuk secara efektif melalui strategi pendidikan dan pembelajaran yang terarah, terpadu, yang dikelola secara serasi dan seimbang dengan memperhatikan pengembangan potensi peserta didik secara utuh dan optimal. Dalam mencapai tujuan pendidikan di atas, potensi siswa dapat lebih ditingkatkan atau ditumbuhkembangkan melalui berbagai cara. Salah satu cara yang diyakini akan mampu meningkatkan potensi sumber daya manusia khususnya bagi peserta didik adalah penerapan kurikulum berbasis kompetensi di sekolah. Upaya ini dilakukan secara berkesinambungan dimulai dari pengkajian konsep, pengembangan pedoman, sosialisasi, dan penerapannya. Berbicara tentang kualitas pendidikan, kita tidak cukup hanya mengukur keberhasilan dari produk pembelajaran saja yang selama ini indikatornya adalah hasil UAN (Ujian Akhir Nasional). Tetapi yang juga harus diperhatikan adalah bagaimana kualitas seluruh komponen yang erat kaitannya dengan pembelajaran yaitu, kualitas sekolah, kualitas masukan (siswa), kualitas kurikulum, kualitas guru dan kualitas proses pembelajarannya serta bagaimana lingkungan belajarnya. Pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang dapat mengembangkan semua kompetensi atau kecerdasan untuk memaknai semua pengalaman hidup secara kreatif (Daniel, 2007). Merujuk dari pernyataan tersebut maka kompetensi siswa dapat terwujud dari proses pembelajaran yang baik. Selama ini seringkali sebagian dari masyarakat mengartikan bahwa seolah-olah satu-satunya tempat belajar hanyalah sosok yang disebut sekolah. Sehingga kesan formalitas itu menjadi semakin jelas dan membelenggu pola pikir kita bahwa apabila ingin menggali ilmu atau mengembangkan potensi diri haruslah berada atau melalui sebuah lembaga yang bernama sekolah. Education for all and by all menjadi dasar pemikiran tersendiri bahwa pendidikan atau belajar itu bisa untuk siapa saja dan oleh siapa saja. Lingkungan sekolah dapat memberikan pengalaman hidup yang bermakna bagi siswanya. Di lingkungan itu pula siswa dapat menjadikannya tempat belajar yang paling menyenangkan. Untuk itu maka perlu mengurangi sifat keformalan dari sebuah sekolah dengan cara mengubah lingkungan sekolah menjadi lingkungan yang mendukung proses pembelajaran dan bersifat menyenangkan. mengembangkan konsep-konsep terpadu dalamrangka membentuk sebuah sekolah dengan suasana dan budaya yang mendukung proses pembelajaran. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah menjadikan sekolah sebagai wahana belajar yang efisien, efektif dan membuat seluruh komponen sekolah memberikan dukungan yang kuat.

Sekolah Berbudaya Lingkungan

Uploaded with ImageShack.us
Dalam penerapannya, untuk menjadikan sebuah sekolah memiliki

budaya lingkungan maka diperlukan beberapa unsur penting yaitu

a) Pengembangan Kebijakan Sekolah

b) Pengembangan Kurikulum Berbasis Lingkungan

c) Kegiatan Berbasis Partisipatif

d) Pengelolaan Sarana Prasarana.

A. Pengembangan Kebijakan Sekolah

Perlu dikembangkan sebuah atau beberapa kebijakan sekolah yang mendukung konsep sekolah berbudaya lingkungan antara lain:

1) memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar di lingkungan luar sehingga belajar tidak selalu berlangsung di lingkungan sekolahnya sendiri

2) memfasilitasi terbentuknya simpul belajar non sekolah yang ramah kepada siswa misalnya melakukan pembelajaran di taman kota, RTH (ruang terbuka hijau), rumah sakit, pertokoan, pasar, bank, perkantoran, desa terpencil, serta mengakses masyarakat

3) memberikan kesempatan kepada guru untuk melakukan pengembangan potensi diri melalui seminar, lokakarya, pelatihan-pelatihan

4) mendukung siswa yang tidak mampu untuk tetap berprestasi melalui jalur teman atau orang tua asuh

5) marginal menyediakan nara sumber dari luar

B. Pengembangan Kurikulum Berbasis Lingkungan

Uploaded with ImageShack.us

Banyak kegiatan sehari-hari yang dapat dikaitkan dengan kurikulum di sekolah. Salah satu bentuk pembelajaran kontekstual yang dapat dilaksanakan adalah implementasi dari beberapa kolaborasi mata pelajaran. Implementasi tersebut dapat dilakukan di luar lingkungan sekolah misalnya di sebuah desa atau kawasan tertentu dengan maksud dapat memberikan suasana berbeda dan menyenangkan serta memberikan pengalaman baru bagi siswa. Melalui sekolah alam, diharapkan siswa dapat belajar dari apa yang dia lihat, apa yang dirasakan serta apa yang ditemukannya di lingkungan. Dengan model pembelajaran bermakna seperti itu maka konsep-konsep yang ditemukan siswa selama proses

pembelajaran dapat mempengaruhi daya retensinya. Pemahaman terhadap suatu konsep melalui pembelajaran di sekolah alam akan memiliki sifat dapat bertahan lebih lama atau bersifat meningkatkan daya retensi siswa. Kondisi tersebut pada kenyataannya dapat meningkatkan kompetensi yang dimiliki siswa. Ketika siswa melalui pembelajaran melakukan aksi lingkungan berupa penanaman, maka di samping siswa terampil melakukannya (vocationalskill) juga didapati kemampuan siswa untuk mengenal lebih dalam struktur anatomi maupun fisiologis tanaman tersebut. Selain itu dengan teknik belajar di lingkungan, diharapkan akan terbentuk jiwa-jiwa yang memiliki kesadaran tinggi terhadap permasalahan lingkungan. Generasi yang kreatif, inovatif dan peka terhadap isu-isu lingkungan akan tercipta dengan sendirinya. Beberapa aksi lingkungan yang dapat dilakukan siswa dalam konsep sekolah berbudaya lingkungan antara lain:

a. kegiatan penghijauan

b. bakti sosial lingkungan

c. jalan sehat

d. kerja bakti lingkungan

e. melakukan konservasi lahan dengan penanaman

f. pemeliharaan tanaman

g. pemanfaatan kebun bibit

h. Penambahan koleksi kebun sekolah untuk proses pembelajaran keanekaragaman hayati

i. Perbanyakan tanaman untuk melatih life skill

j. Konservasi flora & fauna

k. pengenalan konsep konservasi

l. implementasi PLH

m. melaksanakan ”Gugur Gunung” atau bedol sekolah

n. monitoring dan evaluasi.

o. penilaian antar kelas.

p. lomba barang bekas

q. mengembangkan produk olahan bahan sekitar

r. mengadakan pameran produk kreasi siswa

Uploaded with ImageShack.us

Dalam pelaksanaan program gugur gunung, tidak hanya siswa yang mengikuti kegiatan tersebut tetapi seluruh komponen sekolah wajib ikur serta dengan tujuan memberikan bekal life skill baik kepada siswa, guru, karyawan dan pesuruh. Melalui kegiatan seperti itu, diharapkan seluruh warga sekolah dapat memiliki pemahaman yang sama tentang visi dan misi sekolah.

C. Pengembangan Kegiatan Partisipatif

Uploaded with ImageShack.us

Untuk membangun sebuah komitmen menjadikan sekolah berbudaya lingkungan, maka peran stake holder tidak dapat diabaikan. Perlunya melibatkan peran serta aktif komite sekolah untuk mendukung semua kegiatan.

Keterlibatan komite sekolah dalam bentuk:

a. pendanaan

b. dukungan atau support dalam pelaksanaan program-program sekolah misalnya kegiatan implementasi mata pelajaran, pembelajaran di alam dan sebagainya

c. keterlibatan secara langsung dalam aktivitas sekolah

d. mediasi antara sekolah dengan instansi terkait atau dengan pemerintah daerah, masyarakat dan dunia usaha

e. keterlibatan dalam kegiatan pembelajaran, mengevaluasi pelaksanaan program-program sekolah, monitoring seluruh kegiatan sekolah

f. mendorong akreditasi sekolah untuk mencapai sekolah bermutu

g. mendorong pelaksanaan sertifikasi guru guna mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan belajar mengajar melalui aset guru yang profesional

h. mendorong sekolah untuk menyajikan program pendidikan yang lebih beragam dan relevan

i. dukungan untuk mendekatkan siswa dengan lingkungan terdekatnya sehingga siswa mampu menangani semua isu lokal disekelilingnya

D. Pengembangan Pengelolaan Sarana Prasarana

Dalam pembentukan sekolah berbudaya lingkungan, pengelolaan sarana

prasarana menjadi sesuatu yang sangat penting. Penggunaan dan

pengadaan atau pengembangan sarana prasarana yang efektif dan efisien

serta tepat guna harus menjadi acuan utama.

Untuk mendukung terciptanya sekolah berbudaya lingkungan maka konsep

berikut perlu diterapkan di sekolah, yaitu:

a. melakukan penghematan semua sumber daya di sekolah, listrik, air

b. penghematan penggunaan alat tulis kantor

c. pemanfaatan barang bekas untuk pembuatan media pembelajaran

d. pengelolaan sarana prasarana yang tepat guna

e. pengelolaan sarpras secara efisien dan efektif

Melalui empat pilar pelaksanaan sekolah berbudaya lingkungan

tersebut, maka tujuan pembelajaran diharapkan dapat tercapai dengan baik. Penciptaan sistem pembelajaran yang berbasis lingkungan memberikan suasana yang kondusif bagi pendidikan. Kondisi tersebut dapat meningkatkan daya retensi serta kompetensi siswa pada konsep-konsep yang dipelajarinya.

Indonesia yang masuk dalam jajaran Negara paling berpolusi no 3 sedunia, setidaknya boleh berbangga hati. di tengah – tengah mirisnya pendidikan di negeri ini, sebuah inovasi baru di bidang pendidikan indonesia . Selama pembangunannya, hanya bambu, rumput gajah dan tanah liat yang dipergunakan. Semen digunakan hanya di beberapa tempat di yayasan. Pusat dan bangunan yang paling penting adalah “jantung sekolah.” Ini mungkin merupakan gedung terbesar di dunia yang dibangun sepenuhnya dari bambu. Dengan tinggi 18 meter dan luas 64 meter, area sekolahnya mencakup berbagai struktur: gedung apartemen, ruang kelas, gedung kantor, dan kafe. Sekolah ini mendapatkan listrik dari sumber ramah lingkungan: generator turbin air dan panel surya . Terobosan untuk meminimalisir pencemaran dunia yang patut diacungi jempol.

Uploaded with ImageShack.us

Jadi jangan bayangin ruang-ruang kelas tertutup dan ber-AC, dibanding itu, Green School menggunakan batang bambu sebagai ruang kelas, dengan kincir angin sebagai pendingin udaranya. Hmm.. ademmm. Selain itu, sumber listrik untuk seluruh kompleks sekolahan pun menggunakan bio-gas, sawdust hot water, cooking system, a hydro-powered vortex generator dan juga solar panel. Padahal sekolah ini termasuk besar banget, di dalamnya dilengkapi gym, assembly spaces, faculty housing, kantor, café, tambak udang, peternakan sapi, arena olahraga, laboratorium, organic gardens hingga perpustakaan

Sekolah Hijau ini memang mengadopsi banyak konsep hijau dalam operasionalnya, lebih dari itu, mereka memang bercita-cita mencetak manusia yang mampu secara lengkap memiliki bekal dalam menjalani kehidupan. Sekolah yang digagas oleh kelompok internasional dengan background pendidik, environmentalis dan pebisnis ini ingin mengkombinasikan keahliannya untuk mencetak pelajar yang menjadi inspired thinkers, creative problem solvers, mengerti tentang berbagai hal dalam kehidupan, dan mampu menjadi pemimpin di dunia yang selalu berubah dan menantang ini. Pendeknya, mereka-para pelajar-akan tahu segala hal dari organic gardening hingga mendesain website, dari menjalankan bisnis kecil hingga menekan emisi karbon, menjadi orang yang membanggakan dan dapat dipercaya mengelola kehidupan dengan lebih baik di dunia yang semakin kompleks ini

Pendingin udaranya tidak lagi memakai Ac, melainkan kincir angin melalui terowongan bawah tanah. Tenaga listiknya menggunakan bio-gas yang terbuat dari kotoran hewan untuk menyalakan kompor. Tambak udang tempat budidaya, sekaligus peternakan sapi. ditambah lagi arena olahraga, laboratorium, perpustakaan, dll.

Para murid diajarkan untuk dekat dengan Alam, mulai dari cara menanam padi, memproduksi coklat sendiri. Semua itu tak lepas dari harapan agar murid – murid mereka mengerti tentang berbagai hal dalam kehidupan, dan mampu menjadi pemimpin di dunia yang selalu berubah dan menantang ini.

Pendeknya, mereka-para pelajar-akan tahu segala hal dari organic gardening hingga mendesain website, dari menjalankan bisnis kecil hingga menekan emisi karbon, menjadi orang yang membanggakan dan dapat dipercaya mengelola kehidupan dengan lebih baik, di tengah krisis bumi ini.

Sekolah, sebaiknya disesuaikan dengan budaya dan potensi lokal, daerah tempat dimana sekolah akan didirikan. Setiap aspek pendirian sekolah harus terintegrasi dengan; kepribadian individual dan kelompok penduduk, karakteristik cuaca, iklim dan lahan alamiah lingkungan hidup, yang semuanya dipandang sebagai potensi. Sedangkan budaya lokal tentunya mengandung nilai, dan setiap nilai luhur pada budaya lokal, tentunya dapat dijadikan masukan bagi pendirian sekolah. Sangatlah mudah masyarakat awam menilai sekolah dari sudut pandang; akses masuk dan keluar alias lalu lintas dan keterjangkauan lokasi sekolah bentuk bangunan dan semua sarana-prasarana yang tampak di sekolah, keramahan dan kesantunan penyelenggara, pengelola dan pegawai sekolah, hasil didikan yang nampak pada siswa aktif dan alumni sekolah, dan tentunya, tak kalah menarik adalah, berapakah biaya pendidikan di sekolah tersebut. Meski banyak hal lain yang dapat dilihat dari suatu satuan pendidikan, sesungguhnya, sekarang telah dikenal adanya konsep “green school”, dengan ciri khas bangunan ramah lingkungan, aktifitas pendidikan yang juga ramah lingkungan, sampai hasil pendidikan yang ditujukan; bukan saja menghasilkan lulusan cerdas akademik, namun juga, menghasilkan lulusan yang cerdas hidup dengan lingkungan hidupnya. Sekiranya ada penyelenggara sekolah yang berniat membuat “sekolah hijau”, hanya sebagai daya tarik bagi calon orangtua siswa agar mau menyekolahkan anaknya di “sekolah hijau” miliknya itu, sementara si penyelenggara itu punya misi;

1. Membuat biaya sekolah menjadi mahal dengan alasan, “sekolah bermutu itu mahal”

2. Merancang biaya sekolah agar bisa menghasilkan laba

3. Jangan terlalu peduli dengan kurikulumnya seperti apa, “yang penting jalan saja dulu!”

4. Jangan sungkan mempekerjakan guru dan pegawai murah dan asal ada

5. Meningkatkan citra diri penyelenggara agar dikenal publik sebagai tokoh terpuji,
maka hal semacam ini perlu segera diurungkan !

hal yang bila terindikasi pada penyelenggara sekolah semacam itu harus dihapuskan,

harus dihentikan dan segera diluruskan atau dikoreksi ! Memeluk orangtua kaya raya harus dengan ikhlas, bukan demi mengharapkan warisan dari orangtua begitu pula saat memeluk konsep “sekolah hijau”, jangan harap ingin meng-kapitalisasi sekolah. Dirikanlah sebuah “sekolah hijau” di pedesaan, dengan bangunan ramah lingkungan, yang sesungguhnya tidak ditujukan untuk;
1. Mematikan usaha jasa konsultasi arsitektur

2. Mematikan usaha toko bahan bangunan

3. Mematikan usaha konstruksi sipil,

akan tetapi ditujukan untuk memberikan layanan kependidikan, berbasis budaya dan potensi lokal demi usaha mencerdaskan, kehidupan rakyat Indonesia yang berada di pedesaan. “Sekolah hijau” boleh saja menggunakan teknologi informasi dan komunikasi tapi tidak pula dipaksa untuk mengikuti hawa “classroom management based ICT”, yang diharuskan menggunakan teknologi komputer atau laptop dengan pelengkap; sound-system dan lcd projector selalu menjadi alat utama, pengganti papan tulis dan kapur sebagai alat pembelajaran di antara guru dan siswa. Uniknya “sekolah hijau”, ia dapat menerima masukan teknologi mutakhir, tapi dengan syarat, bahwa teknologi mutakhir itu harus ramah lingkungan pula. Tak boleh ada teknologi yang diproduksi dari bahan dan proses yang mencemari lingkungan hidup di belahan dunia ini, karena itu sudah pasti bertentangan dengan ideologi konsep “sekolah hijau” yang murni.

Uploaded with ImageShack.us

Pembelajaran di dalam “sekolah hijau” berlaku layaknya pembelajaran bagi anak-anak,

di jaman sekolah rakyat dahulu kala, atau bagaikan pondok pesantren dahulu kala,

tentunya bila kita mengingat pondok pesantren, maka sangatlah “mendesa”,

berbeda dengan konsep pondok pesantren modern yang bisa dicirikan dengan adanya;

1. Bangunan beton pemanen dan bertingkat

2. Pakaian serba seragam dan ada jadwal penggunaannya

3. Mata pelajaran dipadukan dengan mata pelajaran dari Kurikulum Nasional

4. Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi

5. Pengadaan swalayan dan usaha pertanian berbasis bioteknologi, dsb.
Manfaat konsep “sekolah hijau” bagi para calon penyelenggara sekolah, sesunguhnya adalah kesempatan berbuat baik mendidik rakyat, agar cerdas berkehidupan di daerah yang kaya potensi, di Indonesia yang punya ciri khas tanah subur, rakyat makmur namun untuk kalimat rakyat makmur, itu berlaku jika rakyatnya bisa memberdayakan tanah subur itu, maka, itulah kesempatan para calon penyelenggara sekolah, menjadi penggerak dan penyedia pendidikan yang baik, mudah, murah, dan bisa meluluskan anak-anak berprestasi tinggi, yang cerdas berkehidupan; bisa memberdayakan tanah subur agar rakyat jadi makmur.

Analisis

Sekolah hijau sangat diperlukan sekali untuk menghadapi keseluruhan masalah-masalah yang ada baik dari segi lingkungan maupun dari segi pendidikan. Dengan sekolah yang berbasis lingkungan maka para peserta didik yang ikut dalam system pembelajarannya peka terhadap sesuatu yang ada di sekitarnya juga tanggap dalam merespon segala bentuk alam yang ada di dalam pandangannya. Dari aspek lingkungan sekolah hijau sangat bermanfaat sekali bagi perbaikan dalam polusi-polusi yang ada di dunia khususnya Indonesia. Karena dengan sekolah hijau dapat mengurangi emisi-emisi gas atau menambah serapan air juga bangunannya diliputi dengan bahan-bahan yang ramah lingkungan karena pada hakikatnya sekolah hijau dibuat dengan penyatuan antara alam dan pendidikan.

Sumber :

2 responses to this post.

  1. Sangat baik , kalau disetiap sekolah dibuat sekolah hijau, pasti udaranya sejuk dan bersih, belajar pun menjadi lebih konsentrasi ya.SAE Institute adalah Sekolah bisnis, Media Kreatif terkemuka di dunia. Jurusan kami di Jakarta adalah VFX Animasi, Produksi Film, Sekolah Audio & Bisnis Musik.https://indonesia.sae.edu/id/courses/business/

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

nowathome

Love life! Sharing and caring!

Tales of life

Life is what you make it

SUGIH forever

Prince Dreamer constructs all his dreams!

%d bloggers like this: